18
Jan
09

MENG-INDONESIAKAN OBAMA

MENG-INDONESIAKAN OBAMA

Mohammad Hamdan

Pemerhati Indonesia Soft Power Studies

Calon Anggota DPD Banten 2009-2014

Lalu Obama pun menjadi Presiden, Sebuah Negeri Adidaya yang kita kenal demikian berpengaruh dalam berbagai konstelasi politik ekonomi, bahkan sosial dan Budaya. Setelah melalui Inagurasinya untuk dilantik secara resmi maka lengkap sudah ia menjadi Presiden Ke 44.

Ini situasi yang menantang tentunya tidak saja bagi dunia, bahkan juga bagi Obama sendiri, yang di warisi problem ekonomi yang berdampak global. Dan tentu Indonesia pula sedikit banyak terseret pada arus hilir setidaknya.

Sebagai negeri yang pernah di ”singgahi” oleh Presiden Ke 44 ini sepanjang sejarah fase kehidupannya Indonesia boleh berbangga, sebab difase-fase menentukan perkembangan psikologisnya tersebut Ia memberikan perhatiannya yang sangat besar. Boleh jadi ini tentu sedikit banyak akan berpengaruh pada perhatiannya bagi Indonesia

TENTANG MIMPI DARI SANG ”AYAH”

Selain jika di turut mengikuti jejak sang ibu yang mengambil banyak studi tentang perkembangan Indonesia. Juga sampai satu titik menurut Maya Soetoro (adik kandungnya satu Ibu) ternyata Obama terakhir kali datang ke Indonesia adalah tahun 1991, atau tatkala ia berumur 28 tahunan dan ia menyelesaikan sebuah buku Dream From My Father.

Ini menarik jika boleh berseloroh maka siapakah ”AYAH” yang dimaksud? ayah biologisnya atau ayah ideologisnya. Atau yang dimaksud sebagai ”AYAH” dibuku tersebut adalah simbol ”mentor”nya. Pembimbingnya atau arahan hidupnya, tentu saja hal ini seutuhnya hanya diketahui oleh Obama sendiri,

Meski demikian, lagi-lagi Indonesia boleh saja berbangga, karena menurut Maya Soetoro, sampai tahun itu pula dapat memahami masyarakat Indonesia secara lebih lengkap. Seperti yang ia ungkapkan sendiri pada adiknya tersebut. Di Indonesialah Obama Belajar seni memahami dan dibumi Nusantara ini pulalah ia belajar bernegosiasi dan berkawan dengan banyak orang dengan latar belakang yang berbeda-beda.

Indonesia adalah tempat pertama ia mempelajari fleksibilitas. Lebih jauh lagi, Indonesia adalah tempat pertama ia memahami kompleksitas dunia. Seperti yang dituturkan Maya Soetoro, Lalu apa artinya ini buat kita bangsa Indonesia.

Indonesia dengan keanekaragaman kekayaan dan yang dengan sedikitnya kekayaannya adalah keanekaragaman itu sendiri. Menurut pendapat saya mengajarkan antusiasme pada Obama, bahwa dirinya adalah bagian dari keanekaragaman dan pemahaman keanekaragaman baik ke dalam diri Obama ataupun tentang pandangannya keluar memahami kompleksitas dunia tersebut.

Intinya Obama secara matang dapat mengelola dunia dengan multi perspektif. Dan secara sangat kebetulan sekali di dalam diri Obama sendiri mengalir Darah keanekaragaman tersebut. Ibu biologisnya An Dunham wanita ras kulit putih sedangkan Ayah Biologisnya adalah Arsitek ekonomi dari Kenya. Tentu dengan ras negro. Sedangkan Ayah tiri yang menjadi pembimbingnya selama usia belasan dan dikenalnya hingga kemudian ia merampungkan Buku tersebut adalah orang Indonesia, berlatar suku jawa, namun mengenal dunia metropolitan karena bersekolah ke Amerika hingga akhirnya berjodoh dengan Ibunya. Dan membawa serta ia dalam pengasuhan. Di Indonesia sendiri ia tinggal di Jakarta yang tentu saja Pluralitasya tak bisa terabaikan untuk memperkaya Nuansa pemikiran Obama. Dan sesekali singgah ke tempat orangtua ayah tirinya di Jogja.

MENGINDONESIAKAN OBAMA

Tidak seperti nama sebuah kota di Jepang sana yang memiliki Kesamaan dengan Presiden Amerika ke 44 ini, Mengindonesiakan Obama lebih berarti kepada menginventarisasi segala sesuatu yang berhubungan dengan mantan ”anak menteng” tersebut dan kemudian memposisikan serta memastikan kehadiran Obama menjadi bagian teramat penting dengan klaim yang pada akhirnya justru mampu ”mendongkrak” Indonesia dimata dunia.

Inilah kali pertama Indonesia disebut demikian banyaknya sebanyak berkait erat dengan Presiden Amerika yang fenomenal di Abad 21 ini. Seiring dengan popularitas Obama yang mendunia, teramat sayang jika kesempatan ini tidak dimanfaatkan dan menurut hemat saya inilah momentum emas. Golden moment yang rasanya keterlaluan. Jika harus hilang begitu saja.

Saya memiliki seorang sahabat bernama Stella Rissa, seorang perancang muda berbakat yang talentanya membuat saya berdecak kagum, karena dalam hitungan bulan saja ia sudah mulai mendunia bukan lagi sekedar menasional. Dan terakhir saya kontak ia sedang berada di Bali untuk membangun Pabriknya.

Belakangan saya tergelitik untuk mengajukan sebuah proposal pada dia untuk membuat merek STELLA RISSA-nya misalnya untuk captive jas, kemeja kaum Adam bernama STELLA ”O” RISSA, sehingga dengan sedikit silabus redaksional dan alasan disana-sini misalnya mungkin juga sedikit keluar dari pakem dunia fashion yang sudah mapan. Maka jadilah merek STELLA ”O” RISSA.

Dibumbui dengan Aksen O di tengahnya mengikrarkan bahwa Stella Rissa harus mendunia dengan segala perbedaan dan keanekaragamannya tentu saja. Dan modalitas keragaman adalah Indonesia sekali. Sehingga dengan mudah Dunia mengasosiasikan dengan Indonesia.

Atau dalam konteks pendidikan Indonesia bisa menjadi Par of Excelency dmana kita bisa saja membangun Universitas bertaraf Internasional dengan nama Obama misalnya dengan fokus pendidikan pada pembangunan sosial ekonomi yang membangun keberagaman dan teknologi yang menyelesaikan persoalan global kemanusiaan.

Untuk wisata mantan anak menteng ini bisa didaulat menjadi nama sebuah kompleks wisata alam The Obama Jungle Park misalnya. Dan ini bertaraf internasional sehingga pembukaannya dihadiri oleh Sasha and Malia, kedua puteri Obama, untuk mengingatkan mereka bahwa Ayahnya pernah bermukim di Indonesia.

Dan kepada dunia Internasional pesan yang kita sampaikan adalah ; jika puteri Presiden Amerika saja berlibur ke Indonesia, tentu saja dunia harus berlibur ke Indonesia, buakn tidak mungkin Genting Island akan lewat begitu saja dan pariwisata akan mengalami Booming. Inilah yang mesti kita lakukan agar Indonesia menjadi Pilihan dunia untuk berlibur. Indonesia Exotica..A place the world Can Rest.

Mengindonesiakan Obama tentu tidaklah semudah wacana dalam tulisan ini, namun setidaknya saya menghimbau, untuk mengingatkan betapa kita berada dalam situasi yang sama menantangnya dengan tantangan Obama mengairahkan ekonomi Amerika. Bukan tidak mungkin bahkan sebuah progres adalah sama pastinya dengan kemajuan itu sendiri tinggal bagaimana kita menyikapinya.

Memang tidak mudah, namun teramat tidak pintar apabila kita tidak manfaatkan, Indonesia adalah keberagaman dan Obama adalah Aliran keberagaman baru dan Icon keberagaman baru dunia sehingga untuk saling melengkapi dan saling menghargai meski demikian tulisan ini terlepas dari apapun kebijakan Obama Nantinya namun setidaknya Indonesia bisa mengambil keuntungan secara tunai dan meyakinkan bahwa kita Bisa. AYO KITA BISA. YES WE CAN!

Bookmark and Share



13 Responses to “MENG-INDONESIAKAN OBAMA”


  1. 1    someone January 20, 2009 at 9:18 am

    nice article i think.
    but bole sedikit kritik, pendapat aa agak terlalu “obamasentris” n “oportunis”. mungkin anda pernah dengar tentang opportuniy cost, atau dalam manajemen instansi pemerintah modern sekarang ini dikenal adanya Logic Model theory (input, output, outcome, impact) dan SMART (specific,measurable,attainable,result-oriented, dan Timebound).
    1) opportunity cost singkatnya adalah ketika kita membandingkan keuntungan yang akan kita dapat jika kita memangun suatu produk jika dibandingkan dengan membangun produk lainnya atau jika dibandingkan dengan tidak membangun.
    2) logic model dalam instansi pemerintah memperhitungkan 3 hal pokok,yaitu : input berupa anggaran, peraturan, SDM, dll; output yaitu apa yang akan kita peroleh (produk atau jasa) berapa satuannya, dan berapa % targetnya; outcome adalah hasil yang kita harapkan dari output yang kita dapat tadi, intinya semua tindakan yang dilakukan pemerintah harus memenuhi prinsip 3E (economic, efficient, and effective).
    3) SMART adalah prinsip untuk mengukur ketepatan suatu proyek/rencana beserta instrumen kinerjanya. S berarti specific dalam arti segala rencana harus spesifik dalam semua hal, M berarti measurable dalam arti input maupun hasilnya harus dapat diukur secara jelas, A atau attainable berarti program tersebut harus realistis terhadap kondisi anggaran dan juga realistis untuk dijalankan dalam waktu yang ditetapkan APBN/APBD. R atau result oriented artinya bahwa program/pembangunan/kegiatan tersebut harus memiliki hasil yang jelas dan tidak mengambang dan benar2 menjadikan “result” sebagai patokan utama keberhasilan. T berarti time bound atau waktunya dibatasi,sekedar untuk info, semua departemen dan instansi pemerintah termasuk BUMN di indonesia memiliki timebound 5 tahun, dengan setiap akhir tahun diadakan evaluasi hasil dan pada akhir tahun kelima diadakan evaluasi apakah program tersebut masih bagus atau tidak.

    dengan melihat sistem kita saat ini (adopsi dari AS dan Uni eropa) maka berbagai usulan yang anda sebutkan diatas walaupun bagus tapi menjadi tidak realistis lagi untuk dilaksanakan, baik dari segi input-output-outcome hingga masalah prinsip 3E nya, terkesan terlalu ‘gambling’ mas padahal dalam APBN/APBD tidak boleh ada gambling semacam itu.
    yang kedua saya menyoroti dari segi idealisme, saya pribadi kurang setuju jika kita mendompleng nama “obama” coz dia sama sx bukan orang indonesia walaupun pernah tinggal di negeri ini. apa yang kita harapkan dari nama obama? apa yang kita harapkan dari amerika yang sedang kolapse? jika melihat trend pertumbuhan ekonomi dan militer beberapa tahun ini (2002-2008)maka tidak lama lagi amerika akan kehilangan statusnya sebagai negara adikuasa, kalah bersaing dengan UE dan china. jauh lebih baik jika anggaran yang dipakai untuk “mengindonesiakan obama” kita alokasikan untuk investasi dan memperbesar cadangan devisa kita.

  2. 2    Maya Hussein, PhD January 21, 2009 at 11:31 am

    pertama,
    Tulisan anda cukup menarik terutama sekali bahwa anda mencoba membangun dan membesarkan bangsa anda dengan mengambil icon yang saat ini memang sangat mendunia, meski cukup mudah dicerna bahwa teori yang anda kemukakan berasal dari pandangan Weberian “standing on the shoulder of the giant” nanos gigantum humeris insidentes, meski demikian anda menurut saya (maaf ini menurut saya) menyembunyikan banyak sekali maksud dari tulisan anda karena jika anda kemukakan secara menyeluruh untuk beberapa ide mungkin saja menjadi rawan untuk dicontek, namun setidaknya tidak mengapa juga untuk mengulas secara mendalam toh dengan begitu anda akan diakui sebagai tokoh muda yang briliant. mencoba membesarkan bangsa ini secara “gratisan” gt kan maksudnya???

    kedua,
    saya ingin sedikit mengulas tanggapan dari someone diatas yang sepertinya kurang mencerna apa yang dimaksud oleh anak muda seperti Aa Dadan ini, karena persoalan yang diangkat tulisan ini sepertinya mengulas “Proyek” bahkan “mega proyek” yang hampir sama sekali tidak berhubungan dengan “APBD” karena sesungguhnya yang ingin diangkat oleh Aa Dadan sepertinya “proyek” sebuah bangsa. Nation Project, meski demikian mungkin perspektif anda sedikit lebih mengedepan kan “Plat Merah” kalaupun maksud Aa Dadan begitu saya berkeyakinan ini lebih ke arah “Good Will” sebab benang merahnya jelas bahwa Tulisan ini dan tulisan sebelumnya menegaskan :will kita sebagai sebuah Nation. ini bukan sekedar membahas proyek pemerintah sama sekali. kalaupun saya tidak condong untuk menuduh tanggapan anda berbau-bau “proyek” melulu…

    Bahwasanya pemerintah mendukung oh ya tentu, namun yang perlu di pahami bahwa terkadang ketika bicara tentang sisi pemerintahan, tentang si Plat merah ini, kita pasti bicara birokrasi, nah lucunya anda kemukakan beberapa alat ukur yang teknis dan contohnya justru bergantung sangat dengan pemerintah. (saya ga nuduh anda berpihak atau orang birokrasi loh) namun jelas yang di maksud Aa Dadan justru sebuah katalisasi sekaligus otokreasi masyarakat, seperti dia contohkan tentang pabrik kawannya itu. menurut saya ini penting kalau melihat usahawan kita boleh dikatakan lebih dari separohnya bergantung pada proyek pemerintah(kapitalis semu). kenapa ga menciptakan kreasi yang pro pasar sehingga ada atau tidaknya APBD atau dapet gaknya dari dana APBN bukan kesana arahnya, tp bagaimana masyarakat memahami mereka bisa berdaya dengan tanggannya dan kreativitasnya sendiri, Anda boleh berbangga punya fasilitas ini dan itu tp apakah anda bisa berkreasi tanpa fasilitas ini dan itu kemudian anda ukur realitas kesanggupan proyek tersebut dan sisanya tinggal “nagih”. menurut saya kita sudah sangat manja. dan bagaimana mungkin bangsa ini menjadi besar jika pandangan Someone melulu… menilik DIP (daftar isian proyek) walah kapan anak2 bangsa ini mandiri dalam arti sesungguhnya…

    gebrakan pemikiran model Aa Dadan boleh jadi cukup menggebrak, meski demikian cara dan upaya “penularannya” harus bersifat masif, maka setidaknya kalau Aa Dadan ini jadi Senator boleh jadi penularan ini mengalami turbulensi.. lagi2.. pake teori nanos gigantum humeris insidentes.

    Good Luck I will support U. Obama Indonesia!!!

  3. 3    someone January 22, 2009 at 8:46 am

    buat mbak maya Phd,
    menarik melihat tanggapan saudara akan ulasan dari saya. jujur, saya memang dari birokrat murni, khususnya dari direktorat anggaran depkeu, kalo soal muda, umur saya masih 25 tahun..yang pertama, bahwa apa yang dicontohkan oleh aa dadan tentang perusahaan kawannya (stella o rissa) memang benar itu sesuai dengan ulasan dari mbak “kenapa ga menciptakan kreasi yang pro pasar sehingga ada atau tidaknya APBD atau dapet gaknya dari dana APBN bukan kesana arahnya, tp bagaimana masyarakat memahami mereka bisa berdaya dengan tanggannya dan kreativitasnya sendiri”. tapi perlu diingat mbak maya, itu adalah dari sudut mikroekonomi, segelintir yang kita bahas. sedangkan ketika kita membicarakan “good will suatu bangsa” berarti kita tidak hanya menuntut aspek mikro, tapi juga makro, disitulah negara memegang peranan terpenting. contohnya seperti ini : merk stella o rissa, ya terserah dia sendiri maw digimanain, berkembang atau tidaknya ya dari dia sendiri; tetapi ketika kita menggarisbawahi “membangun universitas obama internasional” atau “Obama jungle park” maka itu akan menjadi urusan bangsa (pemerintah dan legislatif) bukan sekedar urusan persona seperti stella o rissa tadi. ketika kita bicara dalam scope pemerintah dan legislatif, kita harus berpikir “ini gimana sumber dananya”, “bagaimana prospek ke dapannya”, “apa impactnya” dsb dsb.
    tidak sesimple itu mewujudkan apa yang dikatakan aa dadan, lebih ke “mustahil” malahan. kenapa saya katakan mustahil? ingat, tujuan mengindonesiakan obama adalah untuk menaikkan nilai indonesia di mata internasional, let’s see my analysis, kepemimpinan obama maksimal hanya bertahan sampai 2014, dan kalau terpilih lagi (jarang banget terjadi) maka menjadi 2019. berarti kita hanya punya waktu 10 tahun untuk mewujudkan program “mengindonesiakan obama” ini termasuk membangun obama jungle park atau semua proposal menarik lainnya. pertanyaan saya simpel saja, coba kita pikir, apa mungkin mewujudkan semua itu dengan kondisi kita sekarang dan dengan waktu sesingkat itu? coba pikirkan dari hal yang lebih gampang dahulu, tahun 2004 SBY pernah punya program bahwa gaji guru minimal 2 juta, kedengarannya simpel dan realistis, tapi kenyataannya? tidak semudah itu mbak, SBY pun gagal menjalankan program itu sampai sekarang karena berbenturan dengan apa yang mbak sebut “DIP” atau kalau saya boleh koreksi leboh tepatnya “anggaran”.

    kalau memang mau berkembang yang pada ujungnya membuat program “mengindonesiakan obama” dan program2 semacamnya menjadi realistis maka ubah dulu pondasi perekonomian kita , bebaskan dulu iklim investasi di negara ini, naikkan kredibilitasnya lewat investasi dan pertumbuhan ekonomi sehingga sumber pembiayaan kita tidak melulu dari pajak (saat ini 80% lebih dari pajak), perbesar cadangan devisa agar bisa menarik investor2, ciptakan iklim persaingan pasar yang kondusif, kokohkan pondasi usaha kecil dan menengah, dsb dsb. lakukan itu dulu semua, dan proyek “mengindonesiakan obama” akan berjalan lancar. lihat cina, dengan pondasi kuat dan cadangan devisa begitu besar mereka sampai bingung menggunakan uangnya, akhirnya dipakailah untuk pengembangan militer dan industri militer yang besar. kita bisa mengambil contoh dari keberhasilan cina, tapi sekali lagi pertanyaanya adalah apakah untuk sekarang dan 10 tahun ke depan ini apakah realistis proyek “mengindonesiakan obama”? kalau saya bilang “TIDAK”.

  4. 4    Dr. Nurul Wulandari, SE, M.M January 23, 2009 at 12:15 am

    sebelumnya perkenankan diri saya untuk memberikan pandangan singkat tentang artikel ini. posisi saya disini adalah sebagai pengamat ekonomi dan pembangunan jadi pendapat saya adalah pendapat sebagai pengamat yang netral, bukan sebagai birokrat (dik someone), ataupun sebagai legislative (aa dadan)ataupun yang pro salah satu pihak (Ibu Maya).

    memang menarik mengangan-angankan sebuah pemikiran yang kreatif dan inovatif seperti aa dadan. pemikirannya sangat maju ke depan dan sangat luas. bisa kita bayangkan betapa nilai indonesia akan terangkat di mata dunia jika program (saya tidak akan menyebut “proyek” karena istilah tersebut sangat birokratis) mengindonesiakan obama bisa direalisasi menjadi kenyataan selama obama masih memiliki legitimasi sebagai presiden. benar-benar hal yang luar biasa jika itu bisa diwujudkan. saya pribadi sebagai personal (bukan pengamat) akan sangat setuju dan mendukung sekali jika kita menjalankan program tersebut.

    namun kita harus merenungkan satu hal penting disini, bayi pun tidak bisa langsung berjalan, dia harus melalui proses merangkak, berdiri, dituntun, baru kemudian bisa berjalan dengan lancar. demikian juga negara/bangsa, tidak bisa menjadi negara maju sebelum pondasi ekonomi mikro dan ekonomi kerakyatan kuat. jika kita mengkaji ulang pendapat-pendapat anda-anda yang sama briliannya, maka kita bisa melihat suatu celah besar disini yaitu bahwa program mengindonesiakan obama ini adalah terkesan “lompat” atau jika kita umpamakan dalam fase bayi tadi, program ini sudah masuk dalam fase ketika si bayi sudah bisa berjalan cepat, sedangkan kondisi riil ekonomi pembangunan di indonesia adalah masih dalam posisi ketika si bayi baru bisa tengkurap atau merangkak.

    singkatnya masih banyak fase-fase yang harus dilalui bangsa ini sebelum bisa menginjak fase mengindonesiakan obama. kita harus bisa menciptakan banyak sekali stella rissa agar pondasi ekonomi kita menjadi kuat. mungkin bagi Ibu Maya maupun Aa Dadan yang belum mengalami langsung duduk di bangku pemerintahan (entah sebagai birokrat seperti someone atau sebagai legislative) pemikiran saudara masih sangat-sangat idealis, tetapi bagi someone yang mengalami langsung duduk dalam pemerintahan, maka menjadikan dia bisa berpendapat seperti itu. saya pribadi tidak mengatakan siapa benar dan siapa salah, tetapi dengan kondisi pemerintahan dan birokrasi yang sekarang-sekarang ini, bagi aa dadan khususnya selaku caleg, marilah kita menciptakan program-program yang tidak hanya inovatif, tetapi juga realistis untuk dijalankan dalam waktu sekarang-sekarang ini sesuai keadaan bangsa kita.

  5. 5    inimelgue January 23, 2009 at 3:53 am

    Obama: Menteng Dalam = Below Menteng
    Nurul Hidayati - detikNews

    Obama berbahasa Indonesia (ABC News)
    Jakarta - Saat berkunjung ke Departemen Luar Negeri AS di Washington, Presiden Barack Obama diajak berbahasa Indonesia oleh seorang staf Deplu, Charles Silver. Obama pun “bernostalgia”.

    Charles Silver menceritakan, dia berdinas di Kedubes AS di Jakarta pada 1969. Dia berujar kalau saja saat itu dia bisa bertemu dengan Obama. Obama menetap di Jakarta selama 3,5 tahun sejak 1967.

    “Kita kapan-kapan harus main ke lingkungan lama saya,” jawab Obama dalam bahasa Inggris seperti dilansir ABC News, Jumat (23/1/2009). Perbincangan selanjutnya dilakukan dalam bahasa Inggris.

    “Saya pernah tinggal di lingkungan Anda,” ujar Silver.

    “Anda tinggal di Menteng. Itu bagian kaya. Kalau saya tinggal di Menteng Dalam, which means Below Menteng,” jawab Obama.

    Dalam obrolan ini, Obama selalu tersenyum lebar dan para staf Deplu tak henti-hentinya tertawa mendengar obrolan ringan ini.

    Menteng Dalam memang tidak semewah Menteng, kawasan elit di Jakarta. Dalam buku keduanya yang dalam bahasa Indonesia diberi judul “Menerjang Harapan: Dari Jakarta Menuju Gedung Putih”, Obama menulis kisah masa kecilnya yang tidak gemerlapan saat menetap di Menteng Dalam. Saat itu ayah tirinya, Lolo Sutoro, berpangkat letnan. Berikut kutipannya:

    “Keluarga kami belum berkecukupan pada tahun-tahun awal itu, angkatan bersenjata Indonesia tidak membayar para letnannya dengan gaji besar. Kami tinggal di sebuah rumah yang sederhana di pinggiran kota, tanpa pendingin udara, kulkas atau toilet siram. Kami tidak mempunyai mobil — ayah tiri saya mengendarai sebuah sepeda motor, sementara ibu saya naik bus umum lokal setiap pagi ke kedutaan AS, tempatnya bekerja sebagai seorang guru bahasa Inggris. Tak punya uang untuk bersekolah di sekolah internasional yang biasa dimasuki oleh anak-anak ekspatriat, saya bersekolah di sekolah-sekolah Indonesia lokal dan bergaul dengan anak-anak petani, pelayan, penjahit, dan juru tulis,” cerita Obama. (nrl/gah)

    Tetap update di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!

    YANG terjadi malah sebaliknya YA : skarang ini Obama “Bekerja” Untuk Meng-Indonesiakan AMERIKA.
    dengan mengajak. “Kita kapan-kapan harus main ke lingkungan lama saya,”…

    untuk someone, saya memang tidak mengerti banyak persoalan kondisi birokrasi dan apa saja yang saya harus lakukan ketika saya mengusulkan Obama International University, selain mencari investor tentunya.

    Dan sedikit saya ingin terangkan banyak mungkin saya terangkan bahwa studi saya tentang Indonesia Soft Power ini adalah Bagaimana sebuah Image/citra berhubungan dengan ranah sosial, budaya, ekonomi bahkan militer itu sendiri. dan termasuk apa saja keuntungan yang bisa kita peroleh dan juga kerugiannya. contoh paling mudah adalah : TRAVEL WARNING AMERIKA KEPADA INDONESIA. tentu anda paham hubungan mereka yang bergeliat di industri pariwisata menjadi kesulitan dan mengalami penurunan omzet.

    Nah yang di maksud mbak maya mungkin ketidaktepatan pandangan someone dan ulasannya yang kesannya (maaf mungkin juga salah) menghubungkannya dengan bagaimana peran pemerintah mewujudkan Universitas tersebut dan APBD DAN APBN dan bla-bla nya dengan Pemerintah.
    buat saya cukup kreativitas kita. contoh tulisan saya tentang st morritz itu kan kalau kita ganti st morritz dengan si pitung lebih “berasa” Indonesianya. dan itu menurt saya JUALAN KITA.

  6. 6    numpang lewat January 23, 2009 at 4:46 am

    ngambil kesimpulan aja deh, kalo obama yang mengindonesiakan amerika, semua jadi masuk akal deh, sapa tau aja die maw nyumbang uangnya wat ngebangun obama jungle park ato berkampanye untuk mengajak warga amerika wat mengunjungi Indonesia bahkan berinvestasi disini, kasarannya kita yang kreatif,obama yang ngemodalin, kita yang ngejual ide, obama yang beli ide kita, bener gak mas dadan?. sebab kalo cuma ngandelin kekuatan bangsa kita sendiri ya memble, kita butuh obama dalam hal ini, n semoga tindakan obama sama seperti yang sekarang dikatakannya. hidup obama! dan pada akhirnya hidup indonesia!

  7. 7    santiana January 27, 2009 at 11:13 am

    seperti aku pernah bilang, Obama Presiden ke 44 dan Mohammad Hamdan Senator No. 44

    gmana di pake deh coba ide aku.. oke!

  1. 1 Casino 1270284271 Trackback on Apr 3rd, 2010 at 2:17 am
  2. 2 Casino 1273769486 Trackback on May 14th, 2010 at 1:10 am
  3. 3 Casino 1276646706 Trackback on Jun 15th, 2010 at 10:50 pm
  4. 4 Casino 1280430817 Trackback on Jul 29th, 2010 at 12:07 pm
  5. 5 Casino 1290982045 Trackback on Nov 28th, 2010 at 4:46 pm
  6. 6 Casino 1300229163 Trackback on Mar 15th, 2011 at 3:39 pm

Leave a Reply